Grup Reog Ponorogo,Kyai Lodra,binaan Disbudpar Jatim akhirnya raih Piala Presiden

Dibawah bimbingan dan binaan Disbudpar Jatim,Kyai Lodra,grup reog Ponorogo berhasil membawa pulang Piala Presiden dalam konstestasi show of Reog Ponorogo
0
17

Reog Ponorogo resmi diakui dunia sebagai Warisan Budaya Takbenda (Intangible Cultural Heritage) oleh UNESCO. Pengakuan ini diberikan dalam Sidang Komite Warisan Budaya Takbenda UNESCO ke-19 pada Desember 2024, mengukuhkan kesenian kolosal asal Jawa Timur ini sebagai identitas budaya yang sangat berharga.

Status ini mendorong berbagai pihak untuk terus merawat kesenian ini, termasuk melalui perayaan besar seperti Festival Nasional Reog Ponorogo yang rutin diadakan di Ponorogo.Kementerian Pariwisata juga telah menetapkan Fesival ini menjadi top 10 Kharisma Even Nusantara.

Tahun ini 2026, Disbudpar Prov Jatim memfasilitasi kelompok kesenian Kyai Lodra untuk ikut berpartisipasi sebagai peserta.
Kenapa memilih kelompok kesenian ini?kelompok yg terdiri dari beberapa akademisi dari puluhan lembaga pendidikan tinggi dan menengah ini menjamin kesesuaian, ketepatan serta jenis kesenian (karena tentunya sebagai tenaga2 pendidik dalam hal pengembangan mereka lebih memahami batasan batasan sesuai dengan dasar/aturan/hukum adatnya) serta keberlanjutan regenerasi dalam upayanya melestarikan kebudayaan Jatim.

Dalam proses penyiapan untuk keikutsertaannya, Disbudpar Jatim intens untuk menekankan bahwa kontingen yang dibina adalah yang belum pernah merasakan panggung besar Festival Nasional Reog Ponorogo.

Untuk itu, kelompok ini berproses dengan para seniman lainnya (seniman dan calon seniman yang masih menjalani pendidikan formal seni) selama kurang lebih 3 bulan, serta mendalami giat untuk melakukan riset, mengembangkan materi,serta meningkatkan standart penampilan menjadi alunan seni pertunjukan yang levelnya dapat dipertanggungjawabkan secara akademisi dan menyesuaikan pola segmentasi pasar (art market visioning saat ini).

Seperti halnya memfasilitasi kelompok kesenian lainnya (ludruk, jaranan batu, campursari, tengger, banyuwangi, dan lainnya) OPD Disbudpar Jatim dibawah kepemimpinan Bunda Evi sebagai Kepala Disbudpar Jatim sangat mengapresiasi berbagai hal yang mengedepankan standart lebih tinggi dalam hal penerapan kwalitas seni pertunjukannya dan regenerasi yg terus menerus.

Jadi dampaknya semakin banyak seniman yang terakses untuk mengadopsi program pelestarian berbagai obyek kebudayaan dengan standart yanglebih tinggi dibandingkan dengan sebelumnya.

Visi ini ditangkap oleh Kyai Lodra dan mereka membuktikan diri pada show of FNRP XXX dengan target final akhirnya bisa merebut Piala Bergilir Presiden, mereka tampil terbaik dengan segala teknik penajaman kwalitas dan improvisasi aneka art of wind atau pembaharuan tanpa kemudian meninggalkan esensi dan ruh Reog sebagai warisan budaya Nasional.

Leave a reply